..:: Blog-Nyo MangOeni ::..

Ada Cerita, Ada Berita, Ada Tulisan, ada-ada aja…

PSSI, oh Partai Sepakbola Seluruh Indonesia

leave a comment »

nurdin halid

Entah apa yang sedang dipikirkan oleh seorang Nugraha Besoes dan sebagian besar elite PSSI, Sekjen PSSI ini membuat pernyataan-pernyataan yang selalu membela Nurdin Halid. Hal ini saya lihat di sebuah acara berita olah raga stasiun TV swasta kemarin pagi (21/2/08), Mereka memakai tameng Hak Asasi Manusia, karena itulah mereka tidak membuat pernyataan secara resmi bakal mengganti beliau sebagai ketua umum PSSI. dan selalu berdalih bahwa Nurdin terpilih sebagai ketua umum PSSI sebelum terjerat kasus hukum dan menjadi terpidana.

Saya pribadi menjadi sangat dongkol mendengarnya, sebenarnya tidak ada lagi ruang bagi Nurdin Halid. Mau tidak mau, dia harus lengser dari kursi Ketua Umum PSSI. Hal itu seiring keluarnya surat resmi federasi sepak bola dunia (FIFA) kepada PSSI. Dalam suratnya, FIFA menegaskan dua hal penting kepada otoritas sepak bola Indonesia. Perihal pertama, menyangkut penyelesaian penyempurnaan pedoman dasar PSSI. Sedang penegasan kedua dari FIFA terkait pemilihan kepengurusan baru. Bahkan, dalam suratnya, FIFA memberi batas waktu. PSSI diberi deadline tiga bulan untuk menyelesaikan penyempurnaan pedoman dasarnya. Tiga bulan setelah batas akhir penyempurnaan pedoman dasar, PSSI diharuskan melakukan pemilihan ulang kepengurusannya.

Selama ini Nurdin bertahan hanya lantaran merasa belum menerima surat resmi dari FIFA akan perintah baginya untuk mundur. Kini, surat tersebut sudah berada di tangan PSSI. Jadi, Nurdin pun harus rela lengser dari jabatannya. Dengan demikian pula, 5 Agutus mendatang, PSSI harus memilih ketua umum baru. Hitung-hitungan itu jika dikalkukasi dari keluarnya putusan FIFA yang dihasilkan 5 Februari lalu.

Nurdin pernah berkilah bahwa kasus beliau ini terjadi karena permainan politik, ketika di vonis oleh MA bulan September 2007 lalu atas kasus korupsi sekitar Rp.169.700 miliar manyangkut masalah Minyak goreng. Benarkah beliau korban dari permainan politik? Apalagi sebelumnya ia pernah tersangkut kasus mengimpor beras ilegal dari Vietnam serta melanggar kepabean dan telah dihukum 2,5 tahun. Tapi apakah benar demikian, atau MA saja yang iseng “ngerjain” beliau hanya untuk mendiskreditkan Wapres Jusuf Kalla yang sama-sama  berasal  dari Sulsel yang pernah menjadi beking beliau untuk masuk kembali ke DPR untuk menggantikan Andi Matallata pada saat itu. Pertanyaannya, mungkinkah MA ikut-ikutan “bermain” politik?

Kita melihat vonis terhadap NH yang mengantarnya kembali menghuni Lapas Salemba, pada dasarnya bukan “korban” politik, tetapi lebih cenderung sebagai konsekuensi politik yang dimainkannya di PSSI, sejak dia terpilih sebagai ketua umum dalam kongres 2003. Artinya, apa yang dialami NH saat ini merupakan “karma” politik, sebagai tebusan dosa, karena persepakbolaan nasional (baca: PSSI) digerakkannya melalui “gaya” politik. Memang, politik itu bagaikan “virus berwajah seribu” yang bisa masuk ke semua aspek kehidupan, tetapi ke sepak bola jelas haram hukumnya, seperti digariskan FIFA.

Gaya politik yang diperagakan NH di persepakboaan nasional, menurut catatan kita, antara lain, filosofi sepak bola yang mendunia, yakni sportivitas, diubah menjadi persahabatan (buku Visi dan Misi Nurdin Halid/menjelang kongres). Efek perubahan filosofi itu, sampai sekarang NH bisa bertahan sebagai ketua umum meski kepengurusan yang dibentuknya setelah Munas 20 April 2007 di Makassar tidak diakui FIFA, apalagi setelah dia sendiri “hijrah” ke Lapas Salemba. Dengan nilai-nilai persahabatan yang ditanamkan NH, anggota/pengurus PSSI merasa terikat secara organisasi dan moral, akibat nilai sportivitas disisihkan. Suara-suara masyarakat agar mengganti NH bagaikan “anjing menggonggong kafilah berlalu.”

Dalam membentuk kepengurusan PSSI periode 2003-2007, berjumlah 92 orang (terbesar dalam sejarah PSSI), hampir semua posisi kunci (ketua bidang/sekjen/wasekjen/bendahara) dipegang politikus Golkar, sehingga posisi PSSI dapat disamakan sebagai “mantel” Golkar, atau bahkan ada yang menyebut “Partai Sepak Bola Seluruh Indonesia”.

Dengan menyuntikkan “virus” politik, PSSI mau tidak mau harus melakukan gebrakan demi gebrakan, sebagai usaha menggugah masyarakat untuk memberi kepercayaan kepadanya, sehingga melupakan metode dan formulasi pembinaan yang sesuai dengan perkembangan zaman. Terjadilah eksperimen demi eksperimen, dengan mengubah-ubah peserta Kompetisi Liga Indonesia plus berkali-kali menghapus sistem degradasi, sehingga jadwal saling bertabrakan dengan jadwal pelatnas Timnas. Padahal, Timnas adalah output berhasil tidaknya pembinaan. Gelora persepakbolaan nasional memang membahana, tetapi prestasi Timnas di percaturan internasional nihil. Tak sebuah gelar pun dicapai Timnas selama empat tahun kepengurusan NH.
PSSI oh PSSI …..
Dan semoga saja PSSI mampu bekerja cepat dapat menyelesaikan revisi pedoman dasar tersebut dan melakukan pemilihan pengurus baru sesuai dengan Jadwal yang telah ditentukan FIFA. Demi kepentingan sepakbola Indonesia. Karena jika PSSI gagal, maka organisasi ini akan dibekukan oleh FIFA. Cukuplah sudah carut marut yang di sebabkan PSSI dibawah kepemimpinan Nurdin Halid ini. Semoga perubahan akan menimbulkan kemajuan bagi sepakbola Indonesia di masa yang akan datang. Amin

 

Written by mangoeni

Februari 23, 2008 pada 4:17 am

Ditulis dalam Tulisan

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: