..:: Blog-Nyo MangOeni ::..

Ada Cerita, Ada Berita, Ada Tulisan, ada-ada aja…

Enterobacter Sakazakii, Berbahayakah?

with 8 comments

Oleh Widodo Judarwanto

Kembali terjadi permasalahan dalam dunia kesehatan di Indonesia sehingga terjadi kecemasan luar biasa. Betapa tidak, ditemukan adanya Enterobacter sakazakii (E. sakazakii) dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi. Berdasar hasil penelitian IPB terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri berbahaya tersebut.
Sebenarnya, USFDA (United States Food and Drug Administration) ternyata pernah melansir temuan yang sama, yaitu sekitar 14% susu terkontaminasi E. sakazakii dalam sebuah negara. Kenapa demikian banyak susu terkontaminasi, tetapi tidak tampak korban berjatuhan?
Gejala keracunan yang dapat ditimbulkan susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri. Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang.
Selain E. sakazakii, bakteri lain yang sering mengontaminasi susu formula ialah Clostridium botulinu, Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides Escherichia coli Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi, dan berbagai jenis salmonella lainnya.

Enterobacter Sakazakii

E. sakazakii pertama ditemukan tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus serupa pada beberapa negara. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia, risiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar dilaporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika, dan Kanada.
Di Amerika Serikat, angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan ialah 1 per 100 000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9.4 per 100 000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (<1.5 kg). Temuan peneliti IPB tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan. Sebab, USFDA telah melansir sebuah penelitian prevalensi kontaminasi di sebuah negara terhadap 141 susu bubuk formula didapatkan 20 (14%) kultur positif E. sakazakii.
E. sakazakii adalah kuman jenis gram negatif dari family enterobacteriaceae. Organisma ini dikenal sebagai yellow pigmented Enterobacter cloacae. Pada 1980, bakteri ini diperkenalkan sebagai bakteri jenis yang baru berdasar pada perbedaan analisis hibridasi DNA, reaksi biokimia, dan uji kepekaan terhadap antibiotika. Disebutkan, dengan hibridasi DNA menunjukkan E. sakazakii 53-54% dikaitkan dengan 2 spesies yang berbeda genus, yaitu Enterobacter dan Citrobacter.
Pada penelitian 2007, beberapa peneliti mengklarifikasi kriteria taxonomy dengan menggunakan cara lebih canggih, yaitu dengan f-AFLP, automated ribotyping, full-length 16S RNA gene sequencing and DNA-DNA hybridization. Hasil yang didapatkan ialah klasifikasi alternatif dengan temuan genus baru, yaitu Cronobacter yang terdiri atas 5 spesies. Hingga saat ini tidak banyak diketahui tentang virulensi dan daya patogeniotas bakteri berbahaya ini. Bahan enterotoxin diproduksi beberapa jenis strain kuman.
Dengan menggunakan kultur jaringan, diketahui efek enterotoksin dan beberapa strain tersebut. Didapatkan 2 jenis strain bakteri yang berpotensi sebagai penyebab kematian, sedangkan beberapa strain lainnya nonpatogenik atau tidak berbahaya. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa sudah ditemukan demikian banyak susu terkontaminasi, tetapi belum banyak dilaporkan terjadi korban terinfeksi bakteri tersebut.
Meskipun infeksi karena bakteri ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat), and necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing. Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau risiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar 40-80% pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini.
Misalnya, infeksi otak yang disebabkan E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan. Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang.
Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling berisiko mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E. sakazakii untuk bertahan hidup pada suhu 58 C dalam proses pemanasan rehidrasi susu formula.
Proses Pencemaran
Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah. Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu (milking machine), sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara.
Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu.
Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu. Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup.

Dr Widodo Judarwanto SpA, dokter di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Jakarta

Written by mangoeni

Maret 3, 2008 pada 5:14 am

Ditulis dalam Opini

Tagged with

8 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. dikutip dari artikel di atas !
    Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling berisiko mengalami infeksi ini.

    Lalu Quality Controlnya gimana ? untuk mendapatkan susu yang benar-benar bebas dari bakteri Enterobacter Sakazakii.

    Stephen

    Maret 3, 2008 at 10:27 pm

  2. bagus…..

    trisno

    Maret 4, 2008 at 10:10 am

  3. sebaiknya pemerintah cari tau alternatif pengganti susu, tapi yang punya kandungan paling tidak hampir sama dengan yang dimiliki susu…(protein, kalsium,dll)
    SMANGAT!!!

    Dian

    Maret 4, 2008 at 2:35 pm

  4. Info yang bagus ….

    Info lain tentang produk susu yang tercemar bisa dibaca disini

    http://produkjelek.wordpress.com/2008/02/27/nama-produk-susu-formula-yang-tercemar-bakteri-telah-diketahui/

    Yayasan Lembaga Konsumen Independen

    Maret 4, 2008 at 9:15 pm

  5. Kembangkan teknologinya, berapapun dana yang dibutuhkan.

    susu adalah salah satu kebutuhan pokok penunjang kesehatan bangsa. saya rasa hal tersebut sepadan. setiap orang jualan susu pasti laku.

    Abdurahman

    Maret 5, 2008 at 3:06 am

  6. Bingung kok pemrintah kesannya diem ditempat

    Landy

    Maret 5, 2008 at 9:13 am

  7. Kasus ini sedang diteliti BPOM, apabila ternyata penelitian ahli dari IPB tersebut benar, BPOM tidak akan mengumumkan kepada masyarakat.
    SOP (standar operasional prosedur) BPOM seluruh dunia sama, tidak boleh mengumumkan produk makanan yang tercemar mikroba. mikroba tidak selalu mencemari seluruh produk makanan sekaligus.
    Pencemaran mikroba berbahaya pada susu bisa terjadi pada proses produksi, penyimpanan, maupun ketika si ibu menyiapkan susu itu untuk bayinya
    Jadi dalam hal ini kita sendiri yang harus waspada dalam menyimpan dan menyiapkan susu tersebut untuk bayi kita.
    Dan apabila terjadi pencemaran pada saat produksi, maka dalam hal ini Prosedur yang akan dilakukan setelah produk tersebut terbukti tercemar mikroba adalah memanggil produsen dan memintanya menarik semua produk yang dibuat pada waktu yang sama.

    mangoeni

    Maret 5, 2008 at 7:45 pm

  8. sebaiknya pemerintah secepatnya menanggulangi masalah ini secepatnya.

    wati wulandari

    Maret 5, 2008 at 10:18 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: